FOKUS: Anak Purus Terbang ke Bulan

"Bulan adalah simbol imajinasi: mereka ingin tempat yang damai. Tempat seperti anak-anak lain, bermain, bermain, dan bermain"
Proses latihan anak-anak Tanah Ombak (Tanah Ombak)

PADANG, KLIKPOSITIF - Rumah paling ujung di Purus III yang berbatasan dengan Hotel Mercure tak mencolok dari rumah lain. Di depan rumah ada lubang kecil yang airnya tergenang. Di dalam tak ada benda-benda mewah. Hanya ada lemari, kasur, dan peralatan memasak. Tak ada loteng.

Yang mencolok dan membedakannya dari rumah-rumah lain, di dalamnya ada buku-buku yang ditaruh di lemari. Bisa disebut perpustakaan mini. Bersilih ganti anak-anak datang membaca, lalu pergi. Di luar rumah terpampang spanduk dengan ukuran tak terlalu besar: Tanah Ombak.

Aktivitas di dalam  kontras dengan rumah-rumah lain. Anak-anak belajar randai, melukis, dan tentunya membaca. “Dulu, keadaannya tak seperti ini,” ujar pemilik rumah, Syuhendri.

***

Syuhendri Dt. Siri Marajo kembali ke Purus III pada 2015 setelah sebelumnya menempati rumah itu pada 1994 hingga 2006. Lalu ia dan istri melanjutkan studi ke Yogyakarta dan rumah dibiarkan kosong. Syuhendri bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Taman Budaya dan mengambil strata dua jurusan teater. Istrinya mengajar di Universitas Andalas dan melanjutkan studi di kota yang sama.

Setelah tamat, istrinya tak langsung pulang, tapi melanjutkan studi doktoral. Istri dan tiga anaknya tinggal di kota pelajar itu. Sang suami kembali ke Padang. Di Padang, awalnya Syuhendri tak langsung ke rumah. Ia memilih tinggal di kontrakan.

Setelah kontrakan habis masa sewanya, ia memutuskan kembali ke rumah yang ditempati dulu, sekira 2014. Kondisi rumah saat itu tak laik ditinggali. Selain kotor, tak ada loteng. Tapi bukannya memperbaiki loteng, ia malah menanggalkan sekat-sekat yang dijadikan kamar. Jadilah ruang ... Baca halaman selanjutnya