FOKUS: Anak Purus Terbang ke Bulan

"Bulan adalah simbol imajinasi: mereka ingin tempat yang damai. Tempat seperti anak-anak lain, bermain, bermain, dan bermain"
Proses latihan anak-anak Tanah Ombak (Tanah Ombak)
yang lapang di tengah rumah.

“Saya ingin rumah ini tempat latihan teater,” ujarnya pada KLIKPOSITIF, akhir Agustus 2016. Selain PNS, Syuhendri memang aktif bermain dan menyutradarai teater. Ia memiliki komunitas Teater Noktah. Di “rumah baru” itu, ia membawa dua anggota Teater Noktah, Fahmi dan Obe.

Saat rumah direnovasi, anak-anak yang tinggal di sana datang ke rumah itu. Nyaris tiap hari. “Ini mau dibikin apa, Pak,” Tanya anak-anak. “Untuk membangun sanggar,” ujarnya. Anak-anak tak mengerti sanggar. Ia disamakan dengan tari.

Anak-anak tetap datang dan ia membiarkannya. Kemudian suatu hari anak-anak itu ingin menari dan mengaku sudah punya tarian sendiri. Tapi tarian yang mereka maksud adalah goyang dangdut.

“Kayak goyang dumang, terus yang cita-citata itu. Tapi saya biarkan saja,” kata dia. Karena dibiarkan, anak-anak itu semakin sering datang. Mereka menari. Dan terus menari. Suatu hari, ia menawarkan kepada anak-anak untuk bermain drama. Dan anak-anak langsung setuju. “Mungkin mereka menganggap drama itu mudah, seperti sinetron-sinetron,” ujarnya.

***

Syuhendri tahu betul budaya kawasan ini karena pengalamannya pernah bermukim 12 tahun. Ia lalu membuat sebuah naskah drama yang cocok menggambarkan kondisi itu. Judul naskahnya “Lari ke Bulan”.

Senin mama cuci kain
Selasa mama pai malala
Rabu mama cari kutu
Kamis mama duduk manis
Jumat mama melarat
Sabtu mama main kiuw-kiuw

Salah satu kutipan isi naskah itu yang memberikan kritik terhadap orang tua mereka—terutama ... Baca halaman selanjutnya