FOKUS: Belajar Teater dengan Bermain

"Anak-anak tak serta merta diajarkan bermain teater, mereka dibiarkan dulu bermain sesuka hati sampai jenuh"
Anak-anak Tanah Ombak (Tanah Ombak)

PADANG, KLIKPOSITIF - Edo Vernando mulai tertarik dengan warga baru itu. Ia yang tak sekolah—mengaku berhenti karena gurunya pemarah—tertarik karena di rumah paling ujung itu sering terdengar suara musik. Ia datang ke sana dan ingin tahu siapa yang memainkannya.

“Saya berkenalan dengan Bang Obe dan Bang Fahmi,” ujarnya pada KLIKPOSITIF, akhir Agustus 2016. Saat itu Obe dan Fahmi sedang main piano. Edo terus melihat dan sesekali bertanya bagaimana cara memainkannya.

Edo tak sendirian. Esoknya ia membawa Diva, 10 tahun, menemaninya. Diva—seperti Edo—mulai menyukai musik. Kini, mereka tak lagi bermain bersama teman yang lain. Dua saudara ini punya permainan baru yaitu musik.

Temannya yang lain kehilangan sahabat. Setelah tahu Edo dan Diva bermain di rumah berpenghuni baru, teman yang lain mengikuti. Kini, rumah itu ramai. Setidaknya ada 10 orang. Edo, Diva, Adel, Yosi, Alya, Dio, Turang, Rezi, Olen, dan Arwi.

Jarak usia mereka tak berjauhan. Barangkali Edo yang paling tua, 14 tahun. Cerita Obe, di rumah itu, kadang mereka mendengar musik. Tapi paling sering goyang dangdut. Kesukaan mereka goyang dumang yang dinyanyikan Cita Citata.

Syuhendri, pemilik rumah, suatu hari menawarkan anak-anak untuk bermain teater. Anak-anak setuju dan menyambut bahagia. “Saya bilang mau, padahal saya tidak tahu apa itu teater. Hahaha,” kenang Edo.

Edo tak berbohong. Keseharian anak-anak itu, ke sekolah lalu bermain dengan teman-temannya. Yang laki-laki paling sering bermain di warnet, aku Edo. Ada yang putus sekolah seperti Edo. Kata teater barangkali pertama kali mereka dengar.

***

Anak-anak ... Baca halaman selanjutnya