FOKUS: Belajar Teater dengan Bermain

"Anak-anak tak serta merta diajarkan bermain teater, mereka dibiarkan dulu bermain sesuka hati sampai jenuh"
Anak-anak Tanah Ombak (Tanah Ombak)
tak serta merta diajarkan bermain teater. Cerita Syuhendri, mereka diperbiarkan menari dumang. “Lamanya sekira 6 bulan, hanya untuk mereka menari dangdut saja,” ujarnya. Anak-anak pun jenuh. Ketika itulah mereka diperkenalkan dengan teater.

PNS Taman Budaya itu lalu membuat naskah Lari ke Bulan. Naskah ini bercerita tentang keseharian mereka. Ia berusaha membuat naskah kondisi riil agar anak-anak mudah memahaminya. Setelah naskah rampung, anak-anak disuruh menghafal.

“Tidak ada yang mau menghafal,” kenang Syuhendri. Ia mencari jalan lain. Akhirnya didiktekan. Cara ini manjur. Anak-anak lebih mudah memahami ketika didiktekan dibanding menghafal. Lambat-lambat, Syuhendri mengajarkan elemen lain: vocal, bloking, dan gesture.

Banyak cerita yang tak mudah dilupakan saat latihan. Menurut Syuhendri, prosesnya berbeda ketika ia melatih mahasiswa di Teater Noktah. Mahasiswa tentunya telah mengetahui dan sadar kenapa harus bermain teater. Anak-anak tidak. Mereka menganggap teater seperti perpindahan tempat bermain saja. Tak ada ideologi.

Cerita itu, saat latihan, mereka tetap seperti keseharian. Saling mengejek. Kadang berkata-kata kasar. Lalu berkelahi. Sumber perkelahian biasanya karena orang tuanya diejek. Apakah karena perbuatannya atau ekonominya. Tak peduli mereka sedang bloking atau latihan vokal. Bila sudah diejek, pasti dibalas. Mereka tak peduli lagi soal naskah.

“Tak terhitung berapa kalinya latihan harus berhenti karena mereka saling ejek,” ujar Syuhendri. Dalam latihan mereka membuat kelompok-kelompok. Kelompok inilah yang saling menghina, persis seperti perilaku orang dewasa. Caranya mengurangi anak-anak berhenti berkelahi dengan marah. ... Baca halaman selanjutnya