FOKUS: Belajar Teater dengan Bermain

"Anak-anak tak serta merta diajarkan bermain teater, mereka dibiarkan dulu bermain sesuka hati sampai jenuh"
Anak-anak Tanah Ombak (Tanah Ombak)
“Sampai sekarang saya masih dijuluki pemarah,” katanya.

Tapi cara itu seringkali berhasil. Ia ingat ketika sepuluh anak-anak ini latihan mempersiapkan diri mentas di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Saat latihan, mereka masih saling ejek. Syuhendri telah mengingatkan anak-anak untuk mempersiapkan mental. Tapi mereka tak peduli.

Kemarahannya memuncak. Ia robek tiket untuk mereka tampil di Jakarta. Ia suruh anak-anak pulang. Tiket dilemparkan begitu saja. Malamnya, anak-anak itu datang ke rumah. Mereka minta maaf. “Maafkan kami, Pak,” ujarnya. Tiket yang dirobek tadi ternyata mereka lem.

***

Proses latihan membutuhkan waktu setahun lebih. Proses itu berbuah: anak-anak ini mendapat undangan tampil di Taman Ismail Marzuki Jakarta dalam Festival Teater Anak-anak. “Saya awalnya tak membayangkan anak-anak ini tampil di hadapan orang banyak. Niat saya hanya ingin mengubah perilaku,” ujarnya.

Niat itu diwujudkan dalam naskah Lari ke Bulan. Naskah itu tak ada tokoh. Anak-anak menjadi dirinya seperti keseharian. Anak-anak nelayan yang bermain di pantai. Di dalam naskah ada juga adegan mereka saling ejek.

Lewat naskah diajarkan tidak boleh berkelahi. Jika ibu marah, berarti karena ia bandel. “Mungkin, lewat cara ini, mereka bisa menjadi lebih baik,” ujarnya.

Naskah ini juga memberikan kritik terhadap orang tua mereka. Yang membiarkan anaknya berkata kasar dengan memberikan contoh tidak baik. Sehingga anak-anak tak punya lagi kepada siapa mereka harus mengadu. Akhirnya mereka memilih terbang ke bulan.

Di bulan, mereka begitu bahagia. Mereka bernyanyi riang. Mereka bermain tanpa mengejek. Di bulan, mereka ... Baca halaman selanjutnya